F koleksi artikel/tugas: produksi sampingan dan bersama

Selasa, 15 Januari 2013

produksi sampingan dan bersama


Akuntansi biaya

PAPER PRODUK BERSAMA (JOINT PRODUCT) DAN PRODUK SAMPINGAN (BY PRODUCT)

DISUSUN:
KELOMPOK 4

Ø IKA RISDIAN (1101003010025)
Ø MUTHMAINNAH (1101003010061)
Ø RAUDHATUL  JANNAH (1101003010017)


Description: D:\flash Ika\Lambang_Universitas_Syiah_Kuala.gif



D-III AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SYIAH KUALA





BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang

Kegiatan produksi merupakan kegiatan pokok suatu perusahaan manufaktur. Kegiatan produsi bertujuan untuk menghasilkan suatu produk yang dibutuhkan oleh konsumen sehingga memberi kontribusi berupa pendapatan atas penjualan produk hasil produksi tersebut bagi perusahaan. Dalam kegiatan produksi akan terjadi tahap pengolahan dalam proses hingga bahan baku dapat didefinisikan secara spesifik kepada produk akhir atau disebut titik pisah (split of point). Penentuan harga pokok  produk bersama dan produk sampingan tidak memerlukan metode penggolongan dan biaya secara spesifik. Proses produksi yang dilakukan secara bersama-sama akan menimbulkan biaya bersama serta produk bersama. Untuk menghitung harga pokok masing-masing produk yang dhasilkan diperlukan metode untuk memisahkan harga pokok masing-masing produk
.

1.2    Rumusan Masalah

Adapun pokok permasalahan yang akan dibahas lebih lanjut dalam paper ini yaitu sesuai dengam latar belakang diatas bahwa topik pembahasan adalah metode apa yang digunakan dalam menghitung masing-masing produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama. Secara khusus pokok permasalahan dalam paper ini adalah metode apa yang digunakan untuk menghitung harga pokok produksi  Bersama dan Produk Sampingan dan bagaimana akuntansi ataupun perhitungan untuk produk bersama dan sampingan?


1.3       Tujuan

Adapun tujuan yang ingin didapatkan melalui penulisan paper ini adalah :
a.       Mengetahui pengertian dari produk Bersama dan Produk Sampingan
b.      Mengetahui dan memahami metode yang digunakan dalam penghitungan harga pokok   produksi  Bersama dan Produk Sampingan.
c.       Serta untuk mengetahui cara perhitungannya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1      KONSEP PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN

Sebelum membahas produk bersama dan produk sampingan maka harus membahas biaya bersama terlebih dahulu karena pembagian produk menjadi produk bersama dan produk sampingan bersumber dari biaya bersama.

Biaya bersama dapat diartikan sebagai biaya overhead bersama yang harus dialokasikan ke berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya berdasarkan pesanan ataupun secara massa.

Biaya Produk bersama juga bisa diartikan sebagai biaya yang dikeluarkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai macam produk dapat dipisahkan identitasnya. Biaya produk bersama ini terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.

Biaya produk bersama muncul dari produksi secara simultan atas berbagai produk dalam proses yang sama. Ketika dua atau tiga produk di produksi dari sumber daya yang sama maka akan terbentuk biaya gabungan. Biaya gabungan terjadi sebelum titik pisah (split-off). Titik pisah adalah saat dihasilkannya dua atau lebih produk bersama, dimana pada saat itu produk bersama bisa langsung dijual atau diproses lebih lanjut.

Biaya bersama digunakan untuk memproduksi berbagai produk, yaitu

1.      Produk Bersama (joint Product)

Produk Bersama adalah beberapa macam produk yang dihasilkan bersama- sama atau serempak dengan menggunakan satu macam atau beberapa macam bahan baku, tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang sama dan masukkan (input) tersebut tidak diikuti jejaknya pada setiap macam produk tertentu. Biaya produk bersama bersifat homogen untuk seluruh produk sampai pada titik pisah. Nilai jual dari masing-masing produk bersama relatif sama sehingga tidak ada produk yang dianggap sebagi produk utama dan produk sampingan.

Contoh: Pabrik penyulingan minyak mentah (crude oil) menghasikan minyak siap dikonsumsi berupa minyak gasolin, karosine, minyak diesel (solar), minyak bakar, minyak tanah, dll.

.               
2.    Produk Sampingan (by-product)

Istilah produk sampingan digunakan untuk suatu produk yang bernilai total relatif kecil dan diproduksi secara berbarengan dengan produk yang bernilai lebih besar. Produk yang nilainya lebih besar biasa disebut dengan produk utama. Produk sampingan juga bisa diartikan sebagai produk yang bukan tujuan utama operasi perusahaan tetapi tidak dapat dihindarkan terjadinya dalam proses pengolahan produk disebabkan sifat bahan yang diolah atau karena sifat pengolahan produk, kuantitas dan nilai produk sampingan relatif kecil dibandingkan dengan nilai keseluruhan produk.

Pembedaan produk utama dan produk sampingan terletak pada nilai jualnya. Jika nilai jual salah satu produk relatif lebih kecil dari yang lainnya maka dikategorikan sebagai produk sampingan, sedangkan apabila produk-produk yang dihasilkan relatif sama maka dikategorikan sebagai produk bersama.

Contoh: pada pabrik penggergajian kayu, kayu lapis dan papan kayu merupakan produk utama, sedangkan serbuk gergaji dan kayu bakar merupakan produk sampingan.


3.   Produk sekutu (coproduct)

Produk sekutu dapat didefinisikn sebagai beberapa macam produk yang dihasilkan dalam waktu yang sama, tetapi tidak berasal dari proses pengolahan yang sama atau tidak dari bahan baku yang sama.

Contoh : Pabrik penggergajian dapat menghasilkan papan kayu dan kayu lapis dari berbagai jenis kayu log (kayu gelonggongan) yang diproses sehingga macam produk yang dihasilkan dapat berupa papan kayu jati, kayu meranti, kayu kanfer, begitu pula dapat dihasilkan kayu lapis jati,meranti atau kanfer.



2.2  Karakteristik  Produk Bersama, Produk Sampingan Dan Produk  Sekutu

a.    Produk bersama dan produk sekutu merupakan tujuan utama kegiatan produksi.

b.   Dengan mengolah produk bersama, produsen tidak dapat menghindarkan diri untuk menghasilkan semua jenis produk bersama, jika ingin memproduksi salah satu diantara prduk bersama tersebut.

c.    Produk diproses secara bersamaan dan setiap produk mempunyai nilai yang relatif sama antara satu dengan yang lainnya.

d.   Setiap produk mempunyai hubungan fisik yang sangat erat dalam proses produksi. Apabila terjadi peningkatan kualitas untuk satu unit jenis produk yang dihasilkan, maka kualitas yang lain akan bertambah secara proporsional.

e.    Dalam produk bersama dikenal istilah Split-Off Point adalah saat dimana produk-produk tersebut dapat diidentifikasi atau dipisah ke masing-masing produk secara individual.

f.    Setelah Split-Off Point (titik pisah) tersebut dapat dijual pada titik pisah (secara langsung) dan dapat juga dijual setelah pisah (setelah proses lebih lanjut) untuk mendapatkan produk yang lebih menguntungkan. Biaya yang dikeluarkan untuk memproses produk lebih lanjut disebut biaya proses lanjutan atau biaya setelah titik pisah (severable cost)


Produk sampingan dapat digolongkan sesuai dengan dapat tidaknya produk tersebut dijual pada saat terpisah dari produk utama.

a.    Produksi sampingan yang dapat dijual setelah terpisah dari produk utama, tanpa memerlukan pengolahan lebih lanjut.

b.   Produk sampingan yang memerlukan proses pengolahan lebih lanjut setelah terpisah dari produk utama.  


 2.3    AKUNTANSI  PRODUK BERSAMA ( JOINT PRODUCT)

Perusahaan yang menghasilkan produk bersama pada umumnya menghadapi masalah pemasaran berbagai macam produknya, karena masing-masing produk mempunyai masalah pemasaran dan harga jual yang berbeda. Manajemen biasanya ingin mengetahui kontribusi masing-masing produk pada pendapatan perusahan. Oleh karena itu, perlu diketahui secara teliti biaya yang dibebankan pada masing-masing produk sebagai dasar perhitungan harga pokok setiap produk.

Biaya produk bersama dialokasikan ke setiap produk bersama menggunakan metode nilai pasar, rata-rata biaya per satuan, rata-rata tertimbang dan unit kuantitatif.

2.3.1      Metode Nilai Pasar / Nilai Jual Relatif

Metode ini adalah metode yang sangat populer karena dengan argumennya bahwa harga produk merupakan manifestasi dari biaya produksinya. Metode ini mengasumsikan bahwa setiap produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama memilki nilai jual atau nilai pasar yang berbeda. Perbedaan nilai pasar disebabkan tingkat pemakaian biaya yang berbeda.
.
Terdapat dua metode dalam metode nilai jual relatif, yaitu:
1.     Metode nilai pasar saat split-off point
Metode ini digunakan ketika setelah split-off  point tidak ada proses produksi lanjutan dan harga jual sudah diketahui pada saat itu. Biaya bersama (joint cost) dialokasikan ke masing-masing produk sesuai dengan perbandingan nilai jualnya terhadap nilai jual keseluruhan produk bersama.

 Contoh :

PT “ABC” memproduksi 3 macam produk yaitu alfa, beta dan gamma. Biaya bersama yang dikeluarkan selama satu periode adalah sebsar Rp 20.000.000,00. Jumlah produksi dan harga jual masing-masing produk tertera pada table berikut:
Produk
Jumlah unit
Harga unit
Alfa
5.000
Rp 1000
Beta
10.000
Rp 1500
Gamma
7.000
Rp 1300

Penyelesaian :

Produk
Jumlah unit
Harga unit
Nilai jual
Rasio
Alokasi
HPP/ unit
Alfa
5.000
1000
5.000.000
22,62%
4.524.000
904,8
Beta
10.000
800
8.000.000
36,20%
7.240.000
724
Gamma
7.000
1300
9.100.000
41,18%
8.236.000
1.176,5
Jumlah
22.100.000
100%
20.000.000



2.     Metode nilai jual hipotesis

Apabila suatu produk tidak bisa dijual pada saat titik pisah, maka harga tidak dapat diketahui pada saat titik pisah. Produk tersebut memerlukan proses tambahan sehingga harga jual tidak dapat dikethui sebelum dijual (setelah titk pisah). Dasar yang dapat digunakan dalam mengalokasikan biaya bersama adalah harga pasar hipotesis.
Harga pasar hipotesis adalah nilai jual suatu produk setelah diproses lebih lanjut dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk memproses lanjutan setelah pemisahan.

Contoh :

Dengan menggunakan data perusahaan PT. ABC pada contoh soal metode nilai pasar, diketahui biaya proses lanjutan masing-masing produk adalah sebagai berikut:


Keterangan
Produk Alfa
Produk Beta
Produk Gamma
Unit Produksi
5.000
10.000
7.000
Harga Jual/unit
Rp1.000
Rp 800
Rp1.300
Biaya Proses lanjutan/unit
Rp400
Rp 300
Rp500






Produk bersama
Hrg jual/ kg
Biaya Tmbhan
Nilai jual Hipotesis*
Jmlh Prduk
Nilai jual
Rasio
Alokasi ** (20.000.000)
HPP /kg
Alfa
1.000
400
600
5.000
3.000.000
22,06%
4.412.000
Beta
800
300
500
10.000
5.000.000
36,76%
7.352.000
735,2
Gamma
1.300
500
800
7.000
5.600.000
41,18%
8.236.000
1.176,6
13.600.000
100%
20.000.000

*(Harga jual – biaya tambahan)
**(rasio x 20.000.000)


2.3.2     Metode rata-rata biaya per satuan

Metode ini berupaya untuk mendistribusikan total biaya produksi gabungan ke berbagai produk atas dasar biaya per unit dan  Penentuan biaya untuk setiap produk dihitung sesuai dengan proporsi kuantitas masing-masing produk yang dihasilkan.

Contoh :

Suatu perusahaan menghabiskan biaya Rp 2.000.000 untuk memproduksi 1000 liter produk dari minyak mentah. Rata-rata biaya produksi per unit adalah Rp 2.000 (Rp 2.000.000/1000)

Produk
Kuantitas
Rata-rata biaya per satuan
Alokasi biaya bersama
Bensin
350
Rp 2.000
Rp 700.000
Pelumas
250
Rp 2.000
Rp 500.000
Minyak Tanah
300
Rp 2.000
Rp 600.000
Solar
100
Rp 2.000
Rp 200.000
Jumlah
1000
Rp 2.000.000


2.3.3     Metode rata-rata tertimbang

metode yang menggunakan bobot sebagai presentasi dari ukuran besarnya unit, kesulitan pembuatan, waktu yang dibutuhkan dan sebagainya sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya bersama. Penentuan alokasi biaya bersama pada setiap produk didasarkan atas perkalian jumlah unit produk dengan angka penimbang, dan hasilnya digunakan sebagai dasar untuk alokasi.

Contoh :
Dari soal pada metode kedua (metode rata-rata biaya per satuan), diketahui bobot untuk bensin 4, pelumas 2, minyak tanah 3 dan solar 1. Alokasi biaya bersamanya sebagai berikut :

Produk
Jumlah produk
Angka penimbang
Jumlah produk x angka penimbang
Alokasi biaya bersama(2.000.000)
Bensin
350
4
1400
Rp 965.517
Pelumas
250
2
500
Rp344.826
Minyak tanah
300
3
900
Rp620.689
Solar
100
1
100
Rp. 68.966
Total
1000
2.900
Rp 2.000.000


2.3.4     Metode unit kuantitatif / satuan fisik

Metode kuantitatif berupaya mendistribusikan total biaya gabungan berdasarkan satuan ukuran tertentu seperti kilogram, ton, liter, meter dan sebagainya.

Contoh :
Berikut adalah data produk yang dihasilkan dari satu ton batu bara yang menghabiskan biaya sebesar Rp 1.000.000 :

Produk
Kuantitas (pon)
Presentase (%)
Alokasi Biaya Bersama
Kokas
1.200
60%
Rp 600.000
Ter Batu Bara
300
15%
Rp 150.000
Gas
500
25%
Rp 250.000
Jumlah
2.000
100%
Rp 1.000.000
 2.4    Akuntansi  Produk Sampingan (BY PRODUCT)

Dalam produk sampingan, yang menjadikan permasalahan adalah bagaimana memperlakukan pendapatan penjualan produk sampingan tersebut. Pengakuan adanya produk sampingan ini menyangkut perlakuan terhadap harga pokok produk sampingan, biaya untuk memproses produk sampingan, dan hasil penjualan produk sampingan. Alokasi biaya bersama kepada produk utama dan produk sampingan pada umumnya dianggap tidak perlu, karena nilai produk sampingan relatif rendah bila dibandingkan dengan produk utama. Tetapi dalam kenyataannya ada beberapa metode yang mengalokasikan biaya bersama kepada produk utama dan produk sampingan.

            Metode yang hanya melakukan pencatatan terhadap hasil penjualan produk sampingan, tanpa menghitung harga pokok produk sampingan tersebut (metode tanpa harga pokok / Non Cost Method). Dalam metode ini biaya-biaya produksi hanya dibebankan ke produk utama, kemudian hasil penjualan produk sampingan dicatat langsung sebagai pendapatan / pengurang terhadap biaya-biaya produksi.

Dalam metode ini terdapat beberapa cara perlakuan terhadap hasil penjualan produk sampingan sebagai berikut :
a)      Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai pendapatan lain-lain / pendapatan diluar usaha.
b)      Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai tambahan terhadap hasil penjualan produk utama. Dengan demikian dalam cara ini pendapatan usaha bertambah.
c)      Hasil produk sampingan diperlakukan mengurangi harga pokok penjualan.
d)      Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan mengurangi total biaya produksi.
e)      Nilai pasar produk sampingan dikurangkan ke total biaya produksi (Metode Nilai Pasar / reversal Cost Method)

Metode yang membebankan biaya-biaya produksi ke produk utama dan produk sampingan (Metode Harga Pokok / Cost Method). Dalam metode ini biaya-biaya produksi dialokasikan baik ke produk utama maupun produk sampingan. Sedangkan harga pokok produk sampingan ditetapkan sebesar harga beli / nilai pengganti (Replacement Cost) yang berlaku di pasar. Harga pokok tersebut di kredit perkiraan “ Barang Dalam Proses Bahan Baku ”. Dengan demikian biaya produksi (bahan baku) untuk produk utama berkurang.



2.4 1  Metode Tanpa Harga Pokok

Metode tanpa harga pokok dibagi menjadi 2 macam:

  1. Produk sampingan dapat langsung dijual pada saat saat titik pisah (split-offpoint) atau pengakuan atas pendapatan kotor.

Metode ini memperlakukan penjualan produk sampingan berdasarkan penjualan kotor. Hal ini dilakukan karena biaya persediaan final dari produk utama dianggap terlalu tinggi sehingga menanggung biaya yang seharusnya dibebankan pada produk sampingan. Dalam metode ini penjualan atau pendapatan produk sampingan dalam laporan laba rugi dapat dikategorikan sebagai berikut :

  1. Pendapatan Penjualan Produk Sampingan Diperlakukan Sebagai Pendapatan Di Luar Usaha.

Dalam metode ini pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk sampingan dikurangi dengan penjualan returnya dicatat pada rekening “Pendapatan Penjualan Produk Sampingan”  dan pada akhir periode akuntansi ditutup ke rekening Rugi Laba. Rekening Penjualan Produk Sampingan dicantumkan dalam laporan rugi laba kelompok penghasilan diluar usaha.

Metode ini tidak mencoba menentukan harga pokok produk sampingan. Metode ini cocok digunakan dalam perusahaan yang:
a.  Nilai produk sampingannya tidak begitu penting atau tidak dapat ditentukan
b.  Penggunaan metode yang lebih teliti memerlukan biaya yang tidak sebanding dengan manfaat yang di peroleh.
c.  Saat terpisahnya produk sampingan dari produk utama tidak begitu jelas dan pembebanan  harga pokok produk sampingan kepada produk utama tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh.

Keberatan penggunaan metode ini adalah:
a.  Apabila akhir periode akuntansi terdapat persediaan produk sampingan, maka timbul     masalah penilaian persediaan untuk tujuan pembuatan neraca perusahaan.
b.  Dapat mengakibatkan penandingan pendapatan dengan biaya tidak dalam periode yang tepat.

Contoh:

Diketahui data dari kegiatan operasional perusahaan “ABC” sebagai berikut:

Unit Unit Produksi Produk Utama
16.200 unit
Unit Unit Penjualan Produk Utama
13.500 unit
Unit Unit Persediaan Awal Produk Utama
        500 unit
Har  Unit  Jual per Unit
   Rp. 700
Biay Harga produksi/unit produk utama
  Rp 500
Hasi Hasil  Penjualan Produk Sampingan (2.000 x Rp 300)
Rp     Rp. 600.000
Beb  Beban Pemasaran dan Administrasi Produk Utama
Rp2       Rp 2.925.000


PT. ABC
Laporan Laba Rugi
Periode 31 Desember 2000

Penjualan produk utama                                                              Rp 10.125.000
Harga Pokok Penjualan  :
Persediaan awal (500xRp 500)                     Rp      250.000
Total biaya produksi (16.200 x Rp 500)                    Rp   8.100.000 +
         Tersedia dijual                                              Rp   8.350.000
Persediaan akhir           (3.200 x Rp 500)      Rp   1.600.000  -
                                                                              Rp   6.750.000-
Laba Kotor                                                     Rp   3.375.000
Beban pemasaran dan administrasi               Rp   2.925.000-
Laba operasi                                                  Rp      450.000

Pendapatan lain-lain :
Pendapatan penjualan produk sampingan   Rp   600.000+
Laba sebelum pajak                                                            Rp  1.050.000

Pendapatan penjualan produk sampingan dijadikan sebagai pendapatan lain-lain sehingga akan menambah laba operasi secara langsung.

b)   Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai tambahan pendapatan  penjualan produk utama.

Metode ini merupakan variasi dari metode pertama. Semua biaya produksi dikurangkan dari pendapatan penjualan semua produk (baik utama maupun sampingan) untuk mendapatkan laba bruto. Dalam metode ini tidak ada alokasi biaya bersama seperti dalam metode pertama. Dengan menggunakan data perusahaan “ABC”, maka laporan laba-rugi menggunakan metode ini akan tampak sebagai berikut:

PT. ABC
Laporan Laba Rugi
Periode 31 Desember 2000


Penjualan                                                                                                      Rp 10.125.000
Pendapatan penjualan produk sampingan                                                       Rp     600.000+
Penjualan bersih                                                                                           Rp  10 725 000

Harga Pokok Penjualan  :
Persediaan awal (500xRp 500)                                     Rp      250.000
Total biaya produksi (16.200 x Rp 500)                      Rp   8.100.000 +
Tersedia dijual                                                             Rp   8.350.000
Persediaan akhir (3.200 xRp 500)                               Rp   1.600.000 -
                                                                                                                                       Rp 6.750.000-
Laba Kotor                                                                                                      Rp  3.975.000
Beban pemasaran dan administrasi                                                                Rp  2.925.000-
Laba operasi                                                                                                   Rp  1.050.000



Dari laporan laba rugi diatas, ditampilkan Rp 600.000 dari penjualan produk sampingan sebagai tambahan penjualan produk utama. Akibatnya total pendapatan menjadi Rp 10.725.000,00. Sedangkan angka lainnya tetap sama.





c)     Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai pengurang harga pokok penjualan.

Dari data perusahaan “ABC”, jika dibuat laporan laba-rugi dengan metode in maka  akan  menjadi:


PT. ABC
Laporan Laba Rugi
Periode 31 Desember 2000

Penjualan                                                                                               Rp 10.125.000
Harga Pokok Penjualan  :
Persediaan awal (500xRp 500)                              Rp      250.000
Total biaya produksi (16.200 x Rp 500)                 Rp   8.100.000 +
                 Tersedia dijual                                      Rp   8.350.000
Persediaan akhir (3.200 x Rp 500)                         Rp   1.600.000  -
Harga pokok penjualan                                          Rp   6.750.000 
Pendapatan penjualan produk sampingan            Rp    600.000 -
                                                                                                            Rp  6.150.000  -
Laba Kotor                                                                                              Rp  3.975.000
Beban pemasaran dan administrasi                                                        Rp  2.925.000 -
Laba operasi                                                                                           Rp  1.050.000


Dalam kasus ini,
HPP = Hasil produk sampingan – harga pokok penjualan
        = Rp 600.000 – Rp 6.150.000
        = Rp 6.150.00

 (HPP sebelum dikurangkan sebesar Rp 6.750.000).







d)   Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai pengurang total biaya produksi.

Pada metode ini, hasil penjualan produk sampingan sebesar Rp600.000 dikurangkan pada total biaya produksi sebesar Rp 8.100.000 sehingga menghasilkan biaya produksi netto sebesar Rp7.500.000. Pegurangan ini menyebabkan biaya per unit rata-rata menjadi Rp464,07 (7.500.000+250.000 : 16.700) Konsekuansinya persediaan akhir sebesar Rp 1.600.000,00 menjadi Rp1.485.024,00

PT. ABC
Laporan Laba Rugi
Periode 31 Desember 2000


Penjualan                                                                                             Rp 10.125.000
Harga Pokok Penjualan  :
Persediaan awal (500x500)                                    Rp      250.000
Total biaya produksi (16.200 x 500)                      Rp   8.100.000
Pendapatan penjualan Produk Sampingan    Rp    600.000-
                                                                                                      Rp  7.500.000+
Tersedia dijual                                                                               Rp  7.750.000
Persediaan akhir    (3.200 x 464,07)                                              Rp  1.485.024  -
                                                                                                      Rp  6.264.976 -
Laba Kotor                                                                                     Rp  3.860.024
Beban pemasaran dan administrasi                                                Rp  2.925.000 -
Laba operasi                                                                                   Rp    935.024












e.     Metode Nilai Pasar atau Reversal Cost Method.

Metode perlakuan produk sampingan ini pada dasarnya sama dengan metode terakhir yang telah dibicarakan diatas. Ada perbedaan sedikit diantara keduanya, yaitu kalau pada metode terakhir yang dikurangkan dari total biaya produksi adalah pendapatan penjualan produk sampingan, sedangkan pada metode nilai pasar ini yang di kurangkan adalah taksiran nilai pasar produk sampingan. Metode ini mencoba menaksir biaya produk sampingan dengan titik tolak dari nilai pasarnya


Contoh:
PT. ABC
Laporan Laba Rugi
Periode 31 Desember 2000

Biaya bersama                                                                                                  Rp. 6.400.000
Taksiran pendapatan penjualan produk sampingan
            5000 Kg x Rp 80                                                                                 Rp 400.000
dikurangi dengan:
            Taksiran laba bruto 15% x Rp 400.000                        Rp 60.000
            Taksiran biaya pemasaran 5% x Rp 400.000                Rp 20.000
            Biaya pengolahan produk sampingan saat terpisah      Rp 70.000  +
                                                                                                                        Rp 150.000  -
            Taksiran  biaya produk saat terpisah                                                    Rp 250.000
Taksiran biaya tambahan setelah produk sampingan
            Terpisah dari produk utama                                                                 Rp  70.000  +
            Harga pokok produk sampingan                                         Rp 320.000

Nilai produk sampingan yang harus dikurang dari :
            Biaya bersama pada saat terpisah                                                      Rp    250.000  -
Harga pokok produk utama                                                                           Rp 6.150.000
Harga pokok produk utama persatuan                                                           Rp 153,75/ Kg
            Rp 6.150.000 : 40.000 Kg
Harga pokok produk sampingan per satuan                                          Rp     64/ Kg
            Rp    320.000 :   5.000 Kg



  1. Produk sampingan memerlukan proses lanjutan setelah dipisah dari produk utama atau pengakuan atas pendapatan bersih.

Dalam metode ini disadari kebutuhan untuk membebankan sebagian biaya ke produksi sampingan. Tetapi bukan berarti mengalokasikan biaya produk utama ke produk sampingan. Biaya pemrosesan dan pemasaran produk sampingan setelah pemisahan dicatat dalam perkiraan yang berbeda dengan produk utama. Angka-angka yang ada tetap akan diperhitungkan didalam laporan laba-rugi sesuai dengan metode yang ada pada metode pertama. Ayat jurnal dalam metode ini juga terdiri atas pembebanan biaya setelah pemisahan (proses lanjutan) terhadap hasil penjualan produk sampingan. Beban pemasaran dan administrasi juga dialokasikan kedalam produk sampingan sesuai tarif yang telah direncanakan sebelumnya.

Dalam metode ini hasil penjualan bersih produk sampingan dapat dihitung, yaitu :

Penjualan/pendapatan produk sampingan                           Rp xxxxxx
Biaya proses lanjutan produk sampingan                Rp xxxxxx
Biaya pemasaran dan biaya administrasi                 Rp xxxxxx +
                                                                                            Rp xxxxxx  +
Penjualan/ Pendapatan Bersih Produk Sampingan                Rp xxxxxx


Pendapatan bersih produk sampingan inilah yang nantinya akan dimaksukkan pada perhitungan laporan laba-rugi.
Seperti metode pertama, dalam menghitung harga pokok produk sampingan metode kedua juga bisa dilkaukan dengan metode-metode yang ada pada metode pertama, yaitu:
1.   Diperlakukan sebagai penghasilan diluar usaha atau pendapatan lain-lain.
2.   Diperlakukan sebagai penambah penjualan atau pendapatan produk utama.
3.   Diperlakukan sebagai pengurang harga pokok penjualan.
4.   Diperlakukan sebagai pengurang biaya produksi.






2.4.2  Metode Harga Pokok

Dalam metode ini pengalokasian biaya produk sampingan hampir sama dengan produk bersama yaitu sebagian biaya bersama dialokasikan kepada produk sampingan dan menentukan harga pokok persediaan produk sampingan dengan biaya yang dialokasikan tersebut.

a.    Metode Biaya Pengganti (Replacement Cost Method)

Metode ini biasanya digunakan dalam perusahaan yang produk sampingannya dipakai dalam pabrik sebagai bahan baku atau bahan penolong. Harga pokok yang diperhitungkan dalam produk sampingan adalah sebesar harga beli atau biaya pengganti yang berlaku dipasar. Jumlah ini kemudian dikreditkan pada rekening barang dalam proses – biaya bahan baku, sehingga mengurangi biaya produksi produk utama. pengurangan biaya produksi produk utama ini akan mengakibatkan harga pokok persatuan persediaan produk utama menjadi lebih rendah.


Contoh:

Diketahui data berikut ini:
Jumlah biaya produksi untuk 18.000 Kg produk utama                                                   
Rp 27.000
Pendapatan penjualan produk utama 15.000 x Rp 3,00                                                
 Rp 45.000
Biaya pengganti produk sampingan yg digunakan dlm pengolahan produk utama           
 Rp   1.800
Biaya pemasaran dan administrasi & umum                                                                   
Rp   4.000
Persediaan akhir produk utama                                                                                     
3.000






PT. ABC
Laporan Laba Rugi
Periode 31 Desember 2000


Pendapatan penjualan produk utama                                                          Rp 45.000
Harga pokok penjualan:
            Biaya Produksi (18.000 Kg produk utama)                  Rp 27.000
Dikurangi: biaya pengganti produk sampingan                      Rp   1.800  -
                                                                                                                                     Rp 25.200
Dikurangi: Persediaan akhir 3.000 Kg x (Rp 25.200 : 18.000)                   Rp   4.200  -
                                                                                                                                    Rp  21.000 
Laba bruto                                                                                                      Rp  24.000
Biaya pemasaran dan Administrasi & Umum                                              Rp   4.000 -
Laba bersih sebelum PPh                                                                               Rp  20.000























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Produk Bersama ialah  Biaya sejak awal proses, meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik,yang dikeluarkan untuk mengelola beberapa jenis produk , Produk Sampingan (By Product) adalah produk yang bernilai total relatif kecil dan diproduksi secara berbarengan dengan produk yang bernilai lebih besar. Produk yang nilainya lebih besar biasa disebut dengan produk utama. Contoh produk sampingan adalah penggilingan padi yang dapat menghasilkan beras mempunyai sisa dalam bentuk dedak. Beras merupakan produk utama sedangkan dedak produk sampingan
          
Dalam Produk Bersama (Joint-Product) Perusahaan pada umumnya menghadapi masalah pemasaran berbagai macam produknya, karena masing-masing produk mempunyai masalah pemasaran dan harga jual yang berbeda. Manajemen biasanya ingin mengetahui kontribusi masing-masing produk pada pendapatan perusahan. Oleh karena itu, perlu diketahui secara teliti biaya yang dibebankan pada masing-masing produk sebagai dasar perhitungan harga pokok setiap produk.

Manfaat menghitung alokasi biaya dalam produk bersama adalah:
1.   Menghitung harga pokok dan menentukan nilai persediaan untuk tujuan pelaporan keuangan internal dan eksternal.
2.   Menilai persediaan untuk tujuan asuransi.
3.   Menentukan nilai persediaan jika terjadi kerusakan terhadap nilai barang yang rusak.
4.   Biaya bahan yang hancur.
5.   Menetukan biaya departemen atau divisi untuk tujuan pengukuran kinerja eksekutif.
6.   Pengaturan tarif karena adanya sebagian produk atau jasa yang diproduksi dikenakan peraturan harga.
7.   Mengetahui besarnya kontribusi masing-masing produk bersama terhadap total pendapatan perusahaan.
8.   Mengetahui seluruh biaya produksi yang dibebankan ke masing-masing produk bersama

Biaya produk bersama dialokasikan ke setiap produk bersama menggunakan metode nilai pasar, rata-rata biaya per satuan, rata-rata tertimbang dan unit kuantitatif .


Sedangkan, Akuntansi/perhitungan untuk produk sampingan yaitu dengan metode yang hanya melakukan pencatatan terhadap hasil penjualan produk sampingan, tanpa menghitung harga pokok produk sampingan tersebut (metode tanpa harga pokok / Non Cost Method). Dalam metode ini biaya-biaya produksi hanya dibebankan ke produk utama, kemudian hasil penjualan produk sampingan dicatat langsung sebagai pendapatan / pengurang terhadap biaya-biaya produksi.

Dalam metode ini terdapat beberapa cara perlakuan terhadap hasil penjualan produk sampingan sebagai berikut :
a)      Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai pendapatan lain-lain / pendapatan diluar usaha.
b)      Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai tambahan terhadap hasil penjualan produk utama.
c)      Hasil produk sampingan diperlakukan mengurangi harga pokok penjualan.
d)      Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan mengurangi total biaya produksi.
e)      Nilai pasar produk sampingan dikurangkan ke total biaya produksi (Metode Nilai Pasar / reversal Cost Method)

Serta metode yang membebankan biaya-biaya produksi ke produk utama dan produk sampingan (Metode Harga Pokok / Cost Method). Dalam metode ini biaya-biaya produksi dialokasikan baik ke produk utama maupun produk sampingan. Sedangkan harga pokok produk sampingan ditetapkan sebesar harga beli / nilai pengganti (Replacement Cost) yang berlaku di pasar. Harga pokok tersebut di kredit perkiraan “ Barang Dalam Proses Bahan Baku ”. Dengan demikian biaya produksi (bahan baku) untuk produk utama berkurang.


3.2  Saran

Suatu perusahaan  sebaiknya mulai  mempertimbangkan suatu kebijakan didalam perusahaannya didalam menghitung berbagai produk yang dihasilkan serta dapat  menggunakan  metode  sistem Akuntansi Produk Bersama dan Akuntansi Produk Sampingan. Karena  dengan  menggunakan metode-metode  tersebut akan diperoleh informasi maupun data keuangan serta harga pokok produksi yang lebih akurat, efisien dan lebih efektif.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar